Moment of Waiting
Dalam diamku memasuki relung hatiku yang membiarkan aku untuk terbang pada pemikiran yang aku harapkan, namun rintihan hati memasuki jiwa. Tetes air mata ku mengalir di pipiku. Apakah keruntuhan pemikiran itu telah melalui masa batasnya kasih yang telah dia lakukan?
Dalam gelap, penantian seakan ingin terkoyakkan akan hati yang menahan dalam diam. Kerinduan yang sangat ingin dinantikan hanya mampu bertanya, akankah?
Namun, resiko akan penantian tidaklah diketahui kapan akan terlaksana. Biarlah angan dan asa yang berkelana hendak pergi pada ketinggian yang tak mampu untuk dicapai. Karena hati yang telah berkelana pada ketinggian yang tak mampu untuk dibendung itu sering untuk ditutup, daripada akan terus untuk dibuka kembali yang menyiratkan keraguan dan ketakutan.
Pengharapan tak boleh lagi dibiarkan untuk merusak pemikiran yang tak akan pernah habisnya. Ucapan yang penuh harap harus ditutup rapat. Arah mata angin yang menatap ke depan tak akan lagi mampu menatap. Emosi yang meluap harus mampu dibendung dengan pemikiran untuk tak lagi merasakan. Hati harus ditutup dengan rapat.
Biarkan mereka untuk pergi, jangan tahan mereka, biarkan mereka berkelana begitu juga engkau. Jangan biarkan kasih yang hendak kau bagikan kepada orang yang tidak tepat. Bila tidak, yang terbentuk adalah keputusasaan yang tak akan terselesaikan. Seperti pengalaman yang terbilang sama. Dengan bertemu denga orang - orang yang sama.
Menjemukan, namun tak ada yang bisa dikontrol, dan engkau hanya mampu bertanya dalam hati. Mengapa? Apakah energi ini begitu negatif untuk mengundang orang-orang yang hanya untuk memanfaatkan? Namun, kasih seperti Dia berkata haruslah dibagikan
Sementara engkau bertemu dengan orang-orang itu, engkau sungguh menyadari perjalanan seseorang dalam hidup tidaklah gampang. Seperti coklat yang terasa manis, namun begitu pahit seperti kentalnya coklat yang dilarutkan pada sebuah gelas. Menyerupnya saja sudah tidak begitu menyenangkanmu lagi
Asa yang berkelana, ada apa?
Jawabannya engkau pun menemukan bahwa semua dimulai dari pertemuan.
Pertemuan akan dua orang manusia yang penuh kasih untuk melangkah mengarungi perjalanan dan berharap hingga akhir hayat. Namun, siapa yang menyangka keriuhan pemikiran yang datang dari luar mengakibatkan banyak pertimbangan yang memberatkan pemikiran.
Ketidakpercayaan akan diri sendiri dan kepada seseorang yang telah dipilih oleh diri sendiri, mengakibatkan kekebalan hati yang tidak menyenangkan pemikiran. Apakah pilihan ini benar? Bagaimana mungkin penantian ini akan terhenti di sini?
Ternyata perjuangan baru dimulai setelah semua pilihan itu dilakukan. Akankah engkau berhenti di sini?
Ataukan engkau memerlukan mengosongkan pemikiran dan anganmu untuk sementara?
Mungkin saja itu perlu, engkau perlu bertemu dengan dirimu untuk sementara, dan setelah dalam diam dan kesunyian itu ambillah kembali pilihan itu.
Untuk memperjuangkan pilihanmu dahulu, mungkin engkau membutuhkan cara yang berbeda. Bicarakanlah dengan jiwamu sendiri, dan kepada jiwa yang lain yang engkau pilih sebagai pendampingmu untuk seumur hidupmu.
Biarkan kelelahan pikiranmu untuk engkau bicarakan pada jiwa itu.
Engkau akan menemukan bahwa engkau yang terbiasa bersandar pada batu kekebalan isi pikiranmu, hanya akan membuat engkau hanya memberatkan jiwamu.
Sadarkan hati beserta jiwamu untuk mampu melepaskan
Hingga engkau menemukan akan jiwa jiwa baru yang lahir itu, menyadari bahwa engkau adalah seorang yang tangguh bersama dengan jiwa yang engkau pilih
Dan jiwa -jiwa baru itu akan juga berjuang seperti engkau berjuang
Terutama untuk berjuang dengan penantian yang penuh arti untuk menemukan jiwa yang akan menjadi pejuang bersama dengannya kelak seperti engkau. Dimana mereka tidak akan salah untuk memilih
Pilihan ada pada kehendak mereka, tunjukkanlah itu hingga mereka akan berjuang melawan asa yang tak lekang akan waktu
Komentar
Posting Komentar