I now understand the meaning of peace. There is no true peace unless it first abides within the soul. Oftentimes we persuade ourselves that we are calm when we open our hearts unto another; yet if the place be not safe, the body grows guarded, hope awakens silently, and expectation takes its seat. When such hope is unmet, sorrow or anger soon follows. This calm was not peace. It was but the trembling of the heart, longing to be understood. Peace is of a deeper kind. It endures even in misunderstanding, even when nothing is returned. Peace must first be made within; for me, this is peace with God. From this peace flows compassion, first toward oneself, then toward others; and from compassion, joy is born quietly, faithfully, from within. True peace fashions a safe dwelling a place where one may be vulnerable without fear, without judgment. Not because one expects to receive, but because one already rests in fullness. When peace dwells within each soul, two may lean upon one another not ...
Sejenak aku menyerukan suara harapan mengenai peristiwa Menyimak dengan seksama tentang pilihan yang selama ini dilakukan Apakah sebenar memenuhi ekspresi atau pun espektasi diri? Mulai mempertanyakan, kepada siapa pilihan itu ditunjukkan Bila merenungi kepada manusia mana diri ini ditunjukkan Apakah benak itu membuatnya hanya untuk dipertontonkan Ataukah mempertanyakan pilihan itu untuk menyuguhkan kelana yang hanya untuk dilihat Dahulu aku menyumbang dengan niat tulus Namun dibayarkan dengan kegelisahan yang ternyata hanya untuk diuntungkan Kalimat demi kalimat setiap hari berusaha untuk diubah kepada ketulusan Prasangka baik itu tertanam dalam diri Perjalanan demi perjalanan mengudara Dalam diam Dalam tangis Dalam relungan Akhirnya menertawakan diri Apa yang selama ini ku jalani bukan untukku tapi hanya untuk memenuhi ekspetasi keegoisan? Apakah selama ini aku hidup untuk diri ku? Apakah selama ini jiwaku tentram dengan semua pilihan untuk memenangkannya?...
“Tuhan, aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya tersenyum dari hati. Aku telah memaksa diriku terlalu lama untuk kuat. Aku telah memberi terlalu banyak, merasa terlalu dalam, dan kini aku tidak merasa apa-apa. Tapi aku masih datang kepada-Mu. Kalau Engkau tidak bisa menyembuhkanku hari ini, peluklah aku. Biarkan aku bernafas di hadapan-Mu, tanpa tuntutan. Pegang jiwaku, yang tertidur karena lelah. Tuhan, hidupkanlah aku kembali perlahan. Jangan biarkan aku hilang dalam keheningan ini. Amin.”
Komentar
Posting Komentar